Dari Data Overload ke Keputusan: Cara Baru Mengelola ITOps di Era Hybrid IT

Seiring berkembangnya lingkungan IT modern, banyak organisasi menghadapi tantangan baru: terlalu banyak data, tetapi tetap kesulitan mengambil keputusan. Infrastruktur hybrid yang mencakup on-premise, cloud, dan edge membuat tim IT memiliki lebih banyak dashboard, log, dan metrik dibanding sebelumnya. Namun ironisnya, banyak tim masih kesulitan mendapatkan insight yang benar-benar relevan saat terjadi gangguan atau ketika bisnis membutuhkan percepatan inovasi.

Kondisi ini sering disebut sebagai “cost of complexity”. Semakin banyak tools yang digunakan, semakin banyak pula silo data yang terbentuk. Akibatnya, tim IT harus berpindah-pindah antar sistem hanya untuk memahami satu masalah. Selain itu, volume data yang terus meningkat juga menjadi penghambat transformasi digital. Sekitar 30% organisasi menyebutkan bahwa peningkatan volume dan kompleksitas data menjadi hambatan utama dalam operasi IT yang efektif.

Di kawasan Asia-Pacific dan Japan (APJ), tantangan ini semakin terasa. Banyak organisasi sudah mulai mengadopsi AI dan AIOps, tetapi sebagian besar anggaran IT masih digunakan untuk menjaga sistem tetap berjalan. Bahkan sekitar 75% pengeluaran IT masih difokuskan pada “keeping the lights on” dibandingkan inovasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi berkembang, efisiensi operasional belum sepenuhnya tercapai.

Salah satu masalah terbesar dalam ITOps modern adalah tool sprawl. Banyak tim IT menggunakan lebih dari enam hingga belasan tools monitoring berbeda. Setiap tool dibuat untuk menyelesaikan masalah tertentu, tetapi justru menambah kompleksitas baru. Dampaknya, proses troubleshooting menjadi lebih lambat dan sulit menghubungkan data antar sistem. Kondisi ini membuat tim IT “tenggelam dalam data tetapi kekurangan insight.”

Untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan AIOps mulai menjadi solusi utama. AIOps menggunakan AI dan machine learning untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber, mengkorelasikan informasi, dan mengidentifikasi root cause secara otomatis. Proses ini biasanya terdiri dari empat tahap utama: agregasi data, analisis dan korelasi, identifikasi insight, serta otomatisasi tindakan. Dengan pendekatan ini, tim IT dapat mengurangi noise dan fokus pada masalah yang benar-benar penting.

Perubahan lain yang terjadi adalah pergeseran dari sekadar visibility menuju understanding. Sebelumnya, organisasi berlomba menambah dashboard dan metrik. Namun kini, fokusnya bukan lagi melihat semua data, tetapi memahami apa arti data tersebut bagi bisnis. Observability modern bertujuan menghubungkan performa teknis dengan dampak bisnis, seperti pengalaman pengguna dan ketahanan sistem.

Selain AIOps, agentic AI juga mulai memainkan peran penting dalam ITOps. Teknologi ini memungkinkan sistem tidak hanya memberikan alert, tetapi juga mengambil tindakan otomatis dengan tetap melibatkan manusia dalam pengawasan. Sekitar 40% organisasi di APJ sudah mulai menerapkan AI agents, dan hampir 59% percaya teknologi ini dapat mengubah IT dari reaktif menjadi lebih otonom.

Namun teknologi saja tidak cukup. Faktor people, process, dan technology harus berjalan bersama. Banyak organisasi menghadapi kekurangan skill DevOps dan cloud-native, yang berdampak langsung pada ketahanan operasional. Oleh karena itu, selain mengadopsi AI, organisasi juga perlu meningkatkan kompetensi tim dan memperbaiki proses kerja agar transformasi berjalan efektif.

Pendekatan modern ITOps juga menekankan pentingnya otomatisasi dan standardisasi workflow. Dengan proses yang terstruktur, sistem dapat menangani tugas rutin secara otomatis, sementara tim IT fokus pada masalah strategis. Hal ini membantu mengurangi waktu deteksi dan penyelesaian insiden, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kesimpulannya, tantangan utama ITOps saat ini bukan kekurangan data, tetapi bagaimana mengubah data menjadi keputusan yang cepat dan tepat. Organisasi perlu beralih dari pendekatan monitoring tradisional ke observability berbasis AI dan otomatisasi. Dengan mengurangi kompleksitas tools, mengadopsi AIOps, serta meningkatkan skill tim, perusahaan dapat mengubah data overload menjadi keunggulan kompetitif. Di era hybrid IT yang semakin kompleks, kemampuan mengambil keputusan berbasis insight menjadi kunci utama keberhasilan operasional IT.

Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan SolarWinds Indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi solarwinds.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!